MENAVIGASI DUNIA MAYA: KEARIFAN DEWA RUCI DI ERA KELIMPAHAN INFORMASI


Date Published : 7 December 2025

Contributors

Farida Novita Rahmah

Author

Eneng Malihatunnajiah

Second Author

Keywords

Dewa Ruci Tasawuf Era Digital Literasi Digital

Proceeding

Track

General Track

License

Copyright (c) 2025 International Conference on Cultures & Languages

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Abstract

Kisah Dewa Ruci dalam tradisi wayang Jawa menggambarkan perjalanan spiritual Bima dalam pencarian hikmah tertinggi dan penemuan jati diri. Dalam mistisisme Islam, khususnya tasawuf, perjalanan ini sejalan dengan konsep suluk dalam usaha meraih ma’rifatullah (pengenalan terhadap kebenaran ilahiah). Dewa Ruci dapat dimaknai sebagai perwujudan hikmah dan pencerahan, yang sepadan dengan konsep insan kamil dalam Islam. Di era digital, pencarian makna mengalami transformasi, dengan dunia maya berperan sebagai “samudra baru” yang menyediakan akses tanpa batas terhadap pengetahuan, namun sekaligus menghadirkan tantangan epistemologis seperti banjir informasi, fenomena pascakebenaran (post-truth), dan bias algoritma. Artikel ini menafsirkan kembali narasi Dewa Ruci dalam konteks digital dengan pendekatan hermeneutik dan semiotik, serta menghubungkannya dengan perspektif Islam dalam pencarian ilmu dan kebijaksanaan. Studi ini menemukan bahwa sebagaimana Bima membutuhkan bimbingan Dewa Ruci untuk mencapai pencerahan, individu di era digital juga membutuhkan literasi digital dan pemahaman mendalam tentang Islam untuk menavigasi arus informasi yang melimpah. Dengan demikian, mitologi Nusantara dan nilai-nilai Islam dapat menjadi lensa reflektif bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi.

References

Wardle Claire, & Hossein Derakhshan. (2017). Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework for Research and Policy Making. Council of Europe report.
Nasr, Seyyed Hossein. (1989). Knowledge and the Sacred. New York: SUNY Press. Hardiman, F. Budi. (2015). Humanisme dan Humaniora, KPG.
Heryanto, Ariel. (2010). Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. KPG.
Turkle, Sherry. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. Penguin Press.
Odell, Jenny. (2019). How to Do Nothing: Resisting the Attention Economy. Melville House.
Rheingold, Howard. (2012). Net Smart: How to Thrive Online. MIT Press. Zoetmulder, P. J. (1982). Kebatinan dan Hidup Sehari-hari di Jawa. Gramedia. UNESCO. (2011). Media and Information Literacy Curriculum for Teachers. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
Mulder, Niels. (2001). Mistisisme Jawa: Ideologi dalam Kebudayaan Jawa. LKiS. Floridi, Luciano. Information Overload, Why It Matters and How to Combat It. Philosophical Transactions of the Royal Society A 374.2083 (2016): 20160162.
Shirky, Clay. (2008). Here Comes Everybody: The Power of Organizing Without Organizations. Penguin Press.
Pariser, Eli. (2011). The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. Penguin Press,.
Zuboff, Shoshana. (2019). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. PublicAffairs
Rahayu, Endang Sri. (2020). Islam Sempurna dalam Konsep Syari'at, Tarekat dan Hakikat. Jurnal Emanasi, Vol. 3, No.1, April.
Siswoharsojo, Ki. (1996) Tafsir Kitab Dewarutji. PT Loker. Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
Nasuhi, Hamid. (2009). Serat Dewaruci: Tasawuf Jawa Yasadipura I. Ushul Press. Amrih, Pitoyo. (2013). Resi Durna, Sang Guru Sejati. Pitoyo Ebook Publishing.
Hargittai, Eszter, (ed.), (2015). Digital Research Confidential: The Secrets of Studying Behavior Online. MIT Press.
Nasr, Seyyed Hossein. (1991). Sufi Essays. SUNY Press.
Ricoeur, Paul. (1976). Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Texas Christian University Press.
Barthes, Roland. (1972). Mythologies. Hill and Wang.
Kusnadi, E., Rio, S., Teguh T. S., Yudha, F. Al P.,. (2021). Antisipasi Post-Truth di Era Media Digital, Jurnal Public Relation, Vol. 2, No. 1, April.
Wicaksana, I Dewa Ketut. Metafora Samudra dalam Cerita Dewa Ruci, Makna Sugesti Bima Membentuk Jati Diri. Bali-Dwipantara Waskita dalam Seminar Nasional Republik Seni Nusantara, Vol.3.
Ressa, Yosia Polando. (2021). Kebenaran dan Media Sosial di Era Post-Truth dalam Perspektif Post-Truth Mcintyre dan Linguistik Kultural George A. Lindbeck. Loko Kada: Jurnal Teologi Kontekstual dan Oikumenis, Vol. 01, No. 02, September.
Padnobo, Halintar Cakra. (2023). Lakon Dewa Ruci sebagai Manifestasi Perjalanan Individual Manusia Bertemu dengan Tuhan. Lakon: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Wayang, Vol. XX, No. 1 Juli.
Kanwil Kemenkum Jogja. (2024). Krisis Kepercayaan di Era Post-Truth: Tantangan dan Solusi. https://jogja.kemenkum.go.id.

Downloads

How to Cite

Farida Novita Rahmah, F. N. R. (2025). MENAVIGASI DUNIA MAYA: KEARIFAN DEWA RUCI DI ERA KELIMPAHAN INFORMASI. International Conference on Cultures & Languages, 872-885. https://conferences.uinsaid.ac.id/iccl/paper/view/794