Kesantunan Berbahasa Mahasiswa sebagai Sarana Studi Bahasa dan Penguatan Identitas Budaya
Contributors
TIYA AGUSTINA
Keywords
Proceeding
Track
General Track
License
Copyright (c) 2025 International Conference on Cultures & Languages

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Abstract
Kesantunan berbahasa merupakan aspek fundamental dalam interaksi sosial yang merefleksikan norma budaya, identitas kultural, dan nilai sosial suatu masyarakat. Pada perguruan tinggi, interaksi mahasiswa di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga arena pembentukan identitas dan internalisasi nilai budaya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk kesantunan berbahasa mahasiswa, menganalisis fungsinya sebagai sarana studi bahasa, serta mengidentifikasi perannya dalam penguatan identitas budaya mahasiswa di tengah arus globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Subjek penelitian adalah mahasiswa aktif UKM UIN Raden Mas Said Surakarta yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, simak, dan dilanjutkan dengan teknik catat. Untuk menjaga keabsahan data, digunakan triangulasi teknik dan sumber. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, & Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mempraktikkan kesantunan berbahasa secara beragam. Bentuk sapaan yang digunakan mencakup sapaan formal (Pak, Bu, Dik), sapaan kekerabatan Jawa (Mas, Mbak, Kang, Pakdhe), sapaan populer dan global (Bro, Bos), hingga penggunaan nama diri. Selain itu, tingkat tutur Jawa (krama, madya, ngoko) digunakan secara adaptif berdasarkan faktor usia, status akademik, keakraban, serta konteks situasional. Sapaan formal dan krama berfungsi menjaga hierarki sosial, sapaan kekerabatan meneguhkan identitas lokal, sementara sapaan gaul dan global memperkuat solidaritas generasi muda serta menandai keterbukaan terhadap budaya global. Di sisi lain, bentuk tuturan yang tampak kurang santun dalam konteks tertentu dapat berfungsi positif sebagai penanda keakraban atau humor. Temuan ini menegaskan bahwa kesantunan berbahasa mahasiswa bersifat dinamis, adaptif, dan kontekstual. Praktik kesantunan tersebut bukan hanya instrumen komunikasi efektif, tetapi juga sarana negosiasi identitas budaya, penguatan solidaritas sosial, serta pelestarian nilai kultural dalam masyarakat akademik multikultural. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian sosiopragmatik; secara praktis, mendukung pengembangan pendidikan bahasa di perguruan tinggi yang menyeimbangkan dimensi linguistik dan budaya.