RELIGIOUS HARMONY THROUGH THE AGUSTUSAN THANKSGIVING TRADITION: A CASE STUDY OF SEGARAN VILLAGE, WATES DISTRICT, KEDIRI REGENCY


Date Published : 5 December 2025

Contributors

Aprilia Lestari

Main Author

Melinda Nur Fara

Author

Nur Aini Rahmaningrum

Second Author

M Thoriqul Huda

Third Author

Keywords

Thanksgiving Tradition, Interfaith Harmony, Local Wisdom.

Proceeding

Track

General Track

License

Copyright (c) 2025 International Conference on Cultures & Languages

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Abstract

Indonesia, a country rich in diverse religions, ethnicities, and cultures, has always prioritised interfaith harmony as one of the key aspects necessary to maintain national unity and cohesion. Harmony is defined as a state of calmness, harmony, and mutual respect. In this context, local wisdom plays a crucial role in preserving diversity, serving as a guiding principle that encourages mutual respect, appreciation, and the cultivation of tolerance within a diverse society. Local traditions, known as "Syukuran Agustusan," are cultural expressions that embody significant religious and social values. This tradition is often carried out as an expression of gratitude for independence and as a way to strengthen relationships between communities. This study uses a qualitative approach to understand the phenomenon of interfaith harmony in depth, comprehensively, and in its natural context. This approach provides an opportunity to describe, interpret, and understand the subjective meaning of the participants' experiences. The research location is Segaran Village, located in Wates Subdistrict, Kediri Regency. Data collection techniques include in-depth interviews with community leaders, religious figures, youth, and residents of various religions to explore their opinions and perspectives; participatory observation to observe social interactions and the atmosphere of togetherness. The research findings indicate that the Agustusan Thanksgiving Tradition in Segaran Village is a communal celebration held every night on 17 August, focusing on expressing gratitude for independence and collective prayers for safety. This tradition effectively promotes interfaith harmony through various means, such as serving as an open platform for interaction among all people, regardless of religious background, enabling them to gather and interact, and ensuring there is no discrimination.

 

References

Adiprasetya, J. (2018). Labirin kehidupan: Spiritualitas sehari-hari bagi peziarah iman. BPK Gunung Mulia.
Alfianda, A., Handayani, A., Syari, C., Rejeki, S. F., Putri, A., & Hasanah, R. U. (2024). Meningkatkan semangat kemerdekaan peserta didik di SDN 056604 Purwobinangun Desa Emplasmen Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat. Kegiatan Positif: Jurnal Hasil Karya Pengabdian Masyarakat, 2(1), 1–15.
Arifianto, Y. A. (2020). Membangun kerukunan antarumat beragama dan implikasinya bagi misi Kristen. Huperetes: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 2(1), 39–51. https://doi.org/10.33361/huperetes.v2i1.1354
Bheka, T., & Derung, T. N. (2003). Pengaruh agama terhadap hidup sosial masyarakat dalam perspektif sosiologi. Jurnal Sami, 2(2), 209–218.
Fitriani, S. (2020). Keberagaman dan toleransi antar umat beragama. Analisis: Jurnal Studi Keislaman, 20(2), 179–192. https://doi.org/10.18860/an.v20i2.9876
Fuady, F., Rofiah, I., & Ningsih, S. (2021). Toleransi Nasaruddin Umar sebagai solusi menanggulangi radikalisme atas nama agama. Academica: Journal of Multidisciplinary Studies, 5(1), 1–26. https://doi.org/10.33361/academica.v5i1.1842
Ghazali, A. M. (2011). Antropologi agama: Upaya memahami keragaman kepercayaan, keyakinan, dan agama. Alfabeta.
Intarti, E. R. (2018). Peranan mahasiswa dalam merajut kerukunan antar umat beragama dalam perspektif KeKristenan. Dalam Seminar Nasional: Revitalisasi Indonesia melalui identitas kemajemukan berdasarkan Pancasila (pp. 191–198).
Kurniadin, A. (2023). Mbolo rasa: Tradisi lokal sebagai penguat harmoni sosial dan kerukunan lintas agama di Bima. AL-QALAM: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan, 45(1), 211–228. https://doi.org/10.32665/alqalam.v45i1.2981
Lestari, G. (2016). Bhinneka tunggal ika: Khasanah multikultural Indonesia di tengah kehidupan SARANA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 28(1), 31–37.
Listiana, A. (n.d.). Ilmu perbandingan agama (teori dan praktik). Media Ilmu, 2(3), 17–25.
Liutriagata, R. U. (2022). Upaya pengurus Musala Al Hidayah dalam membangun kerukunan antar umat beragama di lingkungan mayoritas Kristen Desa Segaran Kecamatan Wates Kabupaten Kediri (Skripsi). IAIN Kediri.
Lubis, R. (2005). Cetak biru peran agama. Puslitbang.
Lumbanraja, D. T. S. (2020). Memaknai perumpamaan “Orang Samaria yang baik hati” sebagai dasar membangun kerukunan umat beragama: Tafsir terhadap Injil Lukas 10:25–37. Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Danum Pambelum, 4(1), 1–13.
Malau, O., Saragih, R., Marbun, C. R., Simanungkalit, R., & Siahaan, M. (2021). Kearifan lokal sebagai wahana dalam membangun toleransi umat beragama di Tapanuli Utara. Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 2(1), 1–15.
Musahadi, H. (2007). Mediasi dan konflik di Indonesia. WMC.
Mutmainnah, F., & Purnomo, P. (2022). Analisis nilai-nilai kearifan lokal dalam menumbuhkan sikap toleransi terhadap perbedaan keyakinan se-Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Jurnal Koulutus: Jurnal Pendidikan Kahuripan, 5(1), 1–15. ISSN: 2620-6277 (p), 2620-6285 (e)
Nuriyati, T., Hafsah, S. J., & Nurfatiha, N. (2023). Pemahaman moderasi beragama dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Jurnal Al-Kifayah: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2(2), 257–267. https://doi.org/10.35316/al-kifayah.v2i2.523
Pizarro, J. J., Zumeta, L. N., Bouchat, P., Włodarczyk, A., Rimé, B., Basabe, N., Amutio, A., & Páez, D. (2022). Emotional processes, collective behavior, and social movements: A meta-analytic review of collective effervescence. Frontiers in Psychology, 13, Article 883291. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.883291
Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Kementerian Agama Republik Indonesia. (2023). Saga moderasi dari penjuru Indonesia. Kementerian Agama RI.
Rochanah, T. P. S., & Septiana, F. (2024). Manifestasi pesan dakwah dalam tradisi tirakatan malam kemerdekaan 17 Agustus (Studi kasus di Desa Ternadi Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus). Serumpun: Journal of Education, Politic, and Social Humaniora, 2(2), 123–140.
Saumantri, T., & Hajam. (2023). Urgensi metodologi studi Islam interdisipliner untuk moderasi Islam. An-Nawa: Jurnal Studi Islam, 5(1), 1–18. https://doi.org/10.37758/annawa.v5i1.579
Setiyani, W. (2022). Studi ritual keagamaan. Pustaka Idea.
Tembang, S., & Tanduklangi, S. (2024). Memaknai hospitalitas Kristen berdasarkan Roma 12:17–21 dalam mewujudkan moderasi beragama di Indonesia. Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi, 4(2), 160–177.
Xygalatas, D., Konvalinka, I., Bulbulia, J., & Roepstorff, A. (2011). Quantifying collective effervescence: Heart-rate dynamics at a fire-walking ritual. Communicative & Integrative Biology, 4(6), 735–738. https://doi.org/10.4161/cib.17609
Zainul Arifin, A. (2021). Implementasi toleransi umat beragama: Telaah hubungan Islam dan Kristen di Durensewu Pasuruan Jawa Timur. Satya Widya: Jurnal Studi Agama, 4(1), 45–60.

Downloads

How to Cite

Melinda Nur Fara, M. N. F. (2025). RELIGIOUS HARMONY THROUGH THE AGUSTUSAN THANKSGIVING TRADITION: A CASE STUDY OF SEGARAN VILLAGE, WATES DISTRICT, KEDIRI REGENCY. International Conference on Cultures & Languages, 3(1), 897-917. https://conferences.uinsaid.ac.id/iccl/paper/view/378