Deepfake dan Disinformasi: Krisis Literasi Media dan Tantangan Etika Komunikasi di Era Kecerdasan Buatan
Contributors
Fathimah Nadia Qurrota A'yun
Fitri Ariana Putri
Nabila Zahrani Putri
Keywords
Proceeding
Track
Dakwah
License
Copyright (c) 2026 International Conferences on Islam and Society

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konten deepfake dan disinformasi berbasis AI membentuk persepsi dan kepercayaan publik, serta bagaimana nilai-nilai komunikasi Islam dapat dijadikan dasar etika dalam menghadapi fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana kritis terhadap sejumlah contoh berita dan video deepfake yang beredar di media sosial. Analisis didasarkan pada Teori Framing (Entman) untuk mengidentifikasi bagaimana pesan dan makna dimanipulasi melalui struktur bahasa dan visual, Teori Konstruksi Sosial atas Realitas (Berger & Luckmann) untuk memahami bagaimana realitas palsu terbentuk dan diterima publik, serta Etika Komunikasi Islam sebagai kerangka normatif yang menekankan prinsip amanah, sidq, dan tabayyun dalam proses penyebaran informasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena deepfake dan disinformasi AI memperkuat krisis literasi media dan kepercayaan publik melalui tiga mekanisme utama: Pertama, ilusi objektivitas, di mana rekayasa digital tampak sangat meyakinkan secara visual dan emosional; Kedua, rendahnya literasi digital, yang membuat publik tidak mampu membedakan fakta dari manipulasi; Ketiga, penyalahgunaan teknologi, yang digunakan untuk propaganda dan pembingkaian kepentingan tertentu. Dilihat dari perspektif komunikasi Islam, fenomena ini menuntut penguatan literasi media berbasis nilai etik dan spiritual agar masyarakat dapat bersikap kritis, jujur, dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi maupun menyebarkan informasi.
Kesimpulannya, deepfake dan disinformasi bukan hanya tantangan teknologi, tetapi juga krisis etika komunikasi yang menuntut sinergi antara teori komunikasi modern dan nilai-nilai Islam. Dengan menjadikan prinsip tabayyun sebagai landasan verifikasi informasi, komunikasi publik di era AI dapat diarahkan menuju praktik yang lebih etis, manusiawi, dan berkeadilan.